Rabu, 04 April 2012

LP PPOK



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan
             
Saluran pernafasan atau tractus respiratorius (respiratory rate) adalah bagian tubuh manusia yang berfungsi sebagai tempat lintasan dan tempat pertukaran gas yang diperlukan untuk proses pernafasan. Saluran ini berpangkal pada hidung, faring, laring, trakhea, bronkus utama, bronkus lobaris, bronkiolus dan paru-paru (Wibowo, 2005 : 68).
Sistem pernafasan berfungsi sebagai pendistribusi udara dan penukaran gas sehingga oksigen dapat disuplai ke dan karbon dioksida dikeluarkan dari sel-sel tubuh, karena sebagian besar dari jutaan sel tubuh kita letaknya terlalu jauh dari tempat terjadinya pertukaran gas, maka udara pertama-tama harus bertukaran dengan darah, darah harus bersirkulasi dan akhirnya darah dan sel-sel harus melakukan pertukaran gas (Asih, 2003 : 20).
Saluran pernafasan terbagi menjadi saluran pernafasan atas dan saluran pernafasan bawah.
1.  Saluran pernafasan atas
a.   Hidung
                 Hidung merupakan pintu masuk pertama udara yang kita hirup yang terbentuk dari dua tulang hidung dan beberapa kartilago. Terdapat dua pintu pada dasar hidung yaitu nostril (lubang hidung), atau neres eksternal yang dipisahkan oleh septum nasal di bagian tengahnya.
b.   Faring
                 Faring atau tenggorokan adalah tuba muskular yang terletak di posterior ronggal nasal dan oral dan di anterior vertebra servikalis. Faring dapat dibagi menjagi tiga segmen :
1)  Nasofaring : terletak di belakang rongga nasal. Adenoid atau tonsil faringeal terletak pada dinding posterior nasofaring, yaitu nodus limfe yang mengandung makrofag. Nasofaring adalah saluran yang hanya dilalui oleh udara, tetapi bagian faring lainnya dapat dilalui baik oleh udara maupun makanan.
2)  Orofaring : terletak di belakang mulut. Tonsil adenoid dan lingual pada dasar lidah, membentuk cincin jaringan limfatik mengelilingi faring untuk menghancurkan patogen yang masuk ke dalam mukosa.
3)  Laringofaring : merupakan bagian paling inferior dari faring. Laringofaring ke arah anterior ke dalam laring dan ke arah posterior ke dalam esofagus. Kontraksi dinding muskular orofaring dan laringofaring merupakan bagian dari refleks menelan. 
c.   Laring
                 Fungsinya yaitu berbicara adalah saluran pendek yang menghubungkan faring dengan trakhea. Laring menjadi sarana pembentukan suara. Dinding laring terutama dibentuk oleh tulang rawan (kartilago) dan bagian dalamnya dilapisi oleh membran mukosa bersilia. Kartilago laring yang terbesar adalah kartilago tiroid : teraba pada permukaan anterior leher (pada pria kartilago ini membesar yang disebut Adam’s apple).
                 Epiglotis atau kartilago epiglotik adalah kartilago yang paling atas, bentuknya seperti lidah dan keseluruhannya dilapisi oleh membran mukosa. Selama menelan, laring bergerak ke atas dan epiglotis tertekan ke bawah menutup glotis. Gerakan ini mencegah masuknya makanan atau cairan ke dalam laring.
                 Pita suara terletak di kedua sisi glotis. Selama bernapas pita suara tertahan di kedua sisi glotis sehingga udara dapat masuk dan keluar dengan bebas dari trakhea. 
2.   Saluran pernafasan bawah
a.   Trakhea
                 Terletak di depan esofagus dan saat palpasi teraba sebagai struktur yang keras, kaku tepat di permukaan anterior leher trakhea memanjang dari laring ke arah bawah ke dalam rongga toraks tempatnya terbagi menjadi bronkhi kanan dan kiri. Dinding trakhea disangga oleh cincin-cincin kartilago, otot polos dan serat elastik dan dilapisi oleh membran mukosa bersilia yang banyak mengandung sel yang mensekresi lendir.
b.   Bronkhial dan alveoli
                 Ujung distal trakhea membagi menjadi bronkhi primer kanan dan kiri yang terletak di dalam rongga dada. Di dalam paru-paru membentuk cabang menjadi bronkhus sekunder. Fungsi percabangan bronkhial untuk memberikan saluran bagi udara antara trakhea dan alveoli. Sangat penting artinya untuk menjaga agar jalan udara ini tetap terbuka dan bersih.
                 Unit fungsi paru atau alveoli berjumlah sekitar 300 sampai 500 juta di dalam paru-paru pada rata-rata orang dewasa. Fungsinya sebagai satu-satunya tempat pertukaran gas antara lingkungan eksternal dan aliran darah. Setiap alveolus terdiri atas ruang udara mikroskopik yang dikelilingi oleh dinding yang tipis yang terdiri atas satu lapis epitel skuamosa. Diantara sel epitel terdapat sel-sel khusus yang menyekresi lapisan molekul lipid seperti deterjen yang disebut surfaktan yang melapisi permukaan dalam dinding alveolar.
c.   Paru-paru
                 Paru-paru terletak di kedua sisi jantung di dalam rongga dada dan dikelilingi serta dilindungi oleh sangkar iga. Fungsi paru-paru adalah tempat terjadinya pertukaran gas antara udara atmosfir dan udara dalam aliran darah. Setiap paru dibagi menjadi kompartemen yang lebih kecil, pertama disebut lobus. Paru kanan terdiri atas tiga lobus dan lebih besar dari kiri yang hanya terdiri atas dua lobus. Lapisan yang membatasi antara lobus disebut fisura. Lobus kemudian membagi lagi menjadi kompartemen yang lebih kecil dan dikenal sebagai segmen. Setiap segmen terdiri atas banyak lobulus, yang masing-masing mempunyai bronkhiale, arteriole, venula, dan pembuluh limfatik.
                 Dua lapis membran serosa mengelilingi setiap paru dan disebut sebagai pleura. Lapisan terluar disebut pleura parietal yang melapisi dinding dada dan mediastium. Lapisan di dalamnya disebut pleura viseral yang mengelilingi paru dan dengan kuat melekat pada permukaan luarnya. Rongga pleural ini mengandung cairan yang dihasilkan oleh sel-sel serosa di dalam pleura yang fungsinya melicinkan permukaan dua membran pleura untuk mengurangi gesekan saat paru-paru mengembang dan kontraksi saat bernafas.
d.   Thoraks
                 Rongga thoraks terdiri atas rongga pleura kanan dan kiri dan bagian tengah yang disebut mediastrium. Thoraks mempunyai peran penting. Thoraks menjadi lebih besar ketika dada dibusungkan dan menjadi lebih kecil ketika dikempeskan. Saat diafragma berkontraksi, diafragma akan mendatar keluar dan dengan demikian menarik dasar rongga thoraks ke arah bawah sehingga memperbesar volume thoraks ketika diafragma rileks maka memperkecil volume rongga thoraks (Asih, 2003 : 3-9).       
 Proses respirasi berlangsung beberapa tahap menurut (Alsagaff, 2006 : 7) yaitu :
1.   Ventilasi : yaitu pergerakan udara ke dalam dan ke luar paru. Inspirasi yaitu pergerakan udara dari luar ke dalam paru. Ekspirasi yaitu pergerakan udara dari dalam ke luar paru.
2.   Pertukaran gas di dalam alveoli dan darah. Proses ini disebut pernafasan luar.
3.   Transportasi gas melalui darah.
4.   Pertukaran gas antara darah dengan sel-sel jaringan. Proses ini disebut pernafasan dalam.
5.   Metabolisme penggunaan O2 di dalam sel serta pembuatan CO2 yang disebut juga pernafasan seluler.


B.  Pengertian
                 Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOK) adalah kelainan dengan klasifikasi yang luas, termasuk bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema, dan asma. Ini merupakan kondisi yang terdapat pulih yang berkaitan dengan dispnea pada aktivitas fisik dan mengurangi aliran udara (Baughman, 2000 : 444).
                 Penyakit paru obstruksi menahun (PPOK) adalah kondisi kronis yang berhubungan dengan riwayat emfisema, asma, bronkiektasis, merokok sigaret, atau terpajan pada polusi udara, terdapat sumbatan jalan nafas yang secara progresif meningkat (Tucker, 1998 : 237).
                 Penyakit paru obtruksi menahun (PPOK) adalah aliran udara mengalami obstruksi yang kronis dan pasien mengalami kesulitan dalam pernafasan. PPOK sesungguhnya merupakan kategori penyakit paru-paru yang utama dan bronkitis kronis, dimana keduanya menyebabkan perubahan pola pernafasan (Reeves,    2001 : 41).
                 PPOK meliputi :
1)   Asma
a)    Batuk (mungkin produktif atau nonproduktif), dan perasaan dada seperti terikat.
b)    Mengi saat inspirasi dan ekspirasi, yang sering terdengar tanpa stetoskop.
c)    Pernapasan cuping hidung.
d)    Ketakutan dan diaforesis
2)  Bronkitis
a)    Batuk produktif dengan sputum berwarna putih keabu-abuan, yang biasanya terjadi pada pagi hari dan sering diabaikan oleh perokok (disebut batuk perokok).

b)    Inspirasi ronki kasar (crakcles) dan mengi.
c)    Sesak napas
3)  Bronkitis (tahap lanjut)
a)    Penampilan sianosis (karena polisitemia yang terjadi sebagai akibat dari hipoksemia kronis).
b)    Pembengkakan umum atau penampilan “puffy” (disebabkan oleh edem asistemik yang terjadi sebagai akibat dari kor pulmonal); secara klinis, pasien ini umumnya disebut “blue bloaters”.
4)  Emfisema
a)    Penampilan fisik kurus dengan dada “barrel chest” (diameter toraks anterior-posterior meningkat sebagai akibat hiperinflasi paru-paru).
b)    Fase ekspirasi memanjang.
5)  Emfisema (tahap lanjut)
a)    Hipoksemia dan hiperkapnia tetapi tak ada sianosis : pasien ini sering digambarkan secara klinis sebagai “pink puffers”
b)    Jari-jari tubuh


C.  Etiologi
                 Faktor-faktor resiko penting yang menyebabkan PPOK
1.  Perokok kretek
2.  Polusi udara
3.  Pemajanan di tempat kerja (batu bara, kapas, padi-padian)
      Prosesnya dapat terjadi dalam rentang lebih dari 20 sampai 30 tahun (Smeltzer, 2002 : 756).
                 Faktor penyebab lain menurut (Doenges, 1999 : 152) alergen, masalah emosi, cuaca dingin, latihan, obat, kimia, dan infeksi.

D.  Manifestasi Klinik
1.    Batuk
2.    Sputum atau mukoid, jika ada infeksi menjadi purulen atau mukopurulen.
3.    Sesak, sampai menggunakan otot-otot pernafasan otot-otot pernafasan tambahan untuk bernafas (Mansjoer, 2000 : 480)
                 Manifestasi klinis dari PPOK adalah malfungsi kronis pada sistem pernafasan yang manifestasi awalnya ditandai dengan batuk-batuk dan produksi dahak pada pagi hari. Napas pendek sedang berkembang menjadi napas pendek akut. Batuk yang produktif dahak memburuk menjadi batuk persisten yang disertai dengan produksi dahak yang semakin banyak. Pasien sering mengalami infeksi pernapasan dan kehilangan berat badan menurun atau cukup drastis, sehingga pada akhirnya pasien tersebut tidak akan mampu secara maksimal melaksanakan tugas-tugas rumah tangga. Pasien mudah lelah, mudah mengalami penurunan berat badan sebagai akibat dari nafsu makan yang menurun. Penurunan daya kekuatan tubuh, kehilangan selera makan, penurunan kemampuan pencernaan sekunder karena tidak cukupnya oksigenasi sel dalam sistem gastrointestinal (Reeves, 2001 : 44).

E.  Patofisiologi
                 Pada bronkhitis kronik maupun emfisema terjadi penyempitan saluran nafas, penyempitan ini dapat mengakibatkan obstruksi jalan nafas dan menimbulkan sesak. Pada bronkhitis kronik, saluran pernafasan kecil yang berdiameter kurang dari 2 mm menjadi lebih sempit berkelok-kelok dan berobliterasi. Penyempitan ini terjadi karena metaplasia sel gobles. Saluran napas besar juga menyempit karena hipertrofi dan hiperplasi kelenjar mukus. Pada emfisema paru penyempitan saluran nafas disebabkan oleh berkurangnya elastisitas paru-paru (Mansjoer, 2000 : 480).
                 Obstruksi jalan nafas yang menyebabkan reduksi aliran udara beragam tergantung pada penyakit. Pada bronkitis kronis dan bronkiolitis penumpukan lendir dan sekresi yang sangat banyak menyumbat jalan nafas. Pada emfisema, obstruksi pada pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi akibat kerusakan dinding alveoli yang disebabkan oleh overekstensi ruang udara yang mengalir ke dalam paru-paru (Smeltzer, 2002 :  594).
F.    Pengkajian Dasar
Menurut Doenges (2000 : 152-155) pengkajian dasar PPOK antara lain
1.  Aktivitas / istirahat
Gejala        :   
a.    Keletihan, kelelahan, malaise
b.    Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas.
c.    Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi tubuh tinggi.
d.    Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan.
Tanda :
a.    Keletihan
b.    Gelisah, insomnia
c.    Kelelahan umum atau kehilangan massa otot 
2.  Sirkulasi
Gejala   :    Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda :
a.    Peningkatan tekanan darah
b.    Peningkatan frekuensi jantung atau takikardia berat, disritmia
c.    Distensi vena leher
d.    Edema tidak berhubungan dengan penyakit jantung
e.    Bunyi jantung redup
4.    Integritas ego
Gejala   :
a.    Peningkatan faktor resiko
b.    Perubahan pola hidup
Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang
5.    Makanan dan cairan
Gejala   :
a.    Mual atau muntah
b.    Anoreksia
c.    Penurunan berat badan
Tanda :
a.    Turgor kulit buruk
b.    Edema
c.    Berkeringat
d.    Penurunan massa otot
6.    Higiene
Gejala   : Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan melakukan aktivitas
Tanda : Kebersihan buruk, bau badan.
6.  Pernapasan
Gejala   :
a.  Napas pendek, rasa dada tertekan
b.  Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari
c.   Riwayat pneumonia berulang
d.  Faktor keluarga dan keturunan
e.  Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus
Tanda :
a.    Pernafasan cepat atau lambat, ekspirasi memanjang dengan mendengkur
b.    Adanya penggunaan otot bantu pernapasan
c.    Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi
d.    Perkusi hipersonan
e.    Kesulitan bicara
f.     Warna pucat dan sianosis bibir dan dasar kuku
g.    Terdapat jari tabuh (clupping finger
7.  Keamanan
Gejala   :
a.    Riwayat reaksi alergi, sensitif terhadap faktor lingkungan
b.    Adanya atau berulangnya infeksi
Tanda : Kemerahan atau berkeringat
8.  Seksualitas
Gejala   :    Penurunan libido
9.  Interaksi sosial
Gejala   :
a.    Hubungan ketergantungan
b.    Kurang sistem pendukung
c.    Kegagalan dukungan orang terdekat
d.    Penyakit lama
Tanda :
a.    Keterbatasan mobilitas fisik
b.    Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain
10.     Penyuluhan atau pembelajaran
Gejala   :   
a.    Penyalahgunaan obat pernafasan
b.    Kesulitan menghentikan rokok
c.    Penggunaan alkohol secara teratur 

H.  Pemeriksaan Penunjang
1.  Sinar X dada
      Hiperinflasi paru-paru, mendatarnya diafragma, peningkatan area udara retrosternal, penurunan tanda vaskularisasi (emfisema), peningkatan tanda bronkovaskular (bronkitis).
2.  Tes fungsi paru
      Untuk menentukan penyebab dipsnea, menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restruksi, dan untuk mengevaluasi efek terapi.
3.  Kapasitas inspirasi : menurun pada emfisema
4.  Volume residu : meningkat pada emfisema, bronkitis kronis, dan asma.
5.  GDA
      PaO2 menurun, PaCO2 normal atau meningkat (bronkitis kronis dan emfisema), dan menurun pada asma, pH normal atau asidosis, alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi.
6.  Bronkogram
      Menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kolaps bronkial pada ekspirasi kuat (emfisema), pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronkhitis.
7.  Kimia darah : meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema primer.
8.  Sputum : menentukan adanya infeksi, patogen, gangguan alergi.
9.  EKG : deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat), disritmia atrial (bronkitis), peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis, emifisema), aksis vertikal QRS (emfisema)
10.             JDL (jumlah darah lengkap) dan diferensial
      Hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofil (asma) (Doenges, 2000 : 155).

I.    Komplikasi
                 Komplikasi dari PPOK menurut Tucker (1998 : 238) adalah
1.    Disritmia
2.    Gagal pernafasan akut
3.    Gagal jantung
4.    Kor pulmoner
5.    Edema perifer
6.    Hepatomegali
7.    Sianosis
8.    Distensi vena leher
9.    Murmur regurgitasi
10. Polisitemia
11. Peptik dan refluks esofagus
                 Komplikasi dari PPOK menurut Mansjoer (2000 : 481) infeksi yang berulang, pneumothoraks spontan, eritrositosis karena keadaan hipoksia kronis, gagal nafas, dan cor pulmonal.
                 Komplikasi dari PPOK menurut Smeltzer (2002 : 596)
1.    Gagal atau insufisiensi pernapasan
2.    Atelektasis
3.    Pneumonia
4.    Pneumothoraks
5.    Hipertensi paru

J.   Penatalaksanaan
1.  Penatalaksanaan medis menurut Tucker (1998 : 238)
a.    Terapi oksigen
b.    Berikan nafas buatan atau ventilasi mekanik sesuai kebutuhan
c.    Fisioterapi dada
d.    Pengkajian seri GDA
e.    Obat-obatan
f.     Bronkodilator
g.    Antibiotik
h.    Kortikosteroid
i.      Diuretik
j.      Vaksinasi influensa
k.    Kardiotonik 
2.  Penatalaksanaan keperawatan
                  Tindakan keperawatan menurut Doenges (2000 : 156-163), tindakan keperawatan yang penting pada pasien PPOK adalah fisioterapi dada, batuk efektif, latihan nafas dalam, memberikan posisi semi fowler, cegah terjadinya polusi lingkungan, kaji tingkat ketergantungan pasien, mendiskusikan efek bahaya merokok dan menganjurkan pasien untuk menghindari rokok, tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari, diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.

K.  Intervensi
                 Menurut Donges (2000 : 156) fokus intervensi PPOK antara lain :
1.  Bersihan jalan nafas tidak efektif  berhubungan dengan bronkospasme, peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan tebal, sekresi kental, penurunan energi atau kelemahan.
                  Tujuan : mempertahankan potensi jalan nafas dengan kriteria :
a.    Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih dan jelas.
b.    Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas, misal : batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
                  Intervensi :
a.    Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas.
b.    Pantau frekuensi pernafasan.
c.    Catat adanya derajat dypsnea.
d.    Kaji pasien untuk posisi yang nyaman.
e.    Pertahankan polusi lingkungan minimum.
f.     Bantu latihan nafas abdomen.
g.    Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari. 
2.  Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara), kerusakan alveoli.
                  Tujuan : mempermudah pertukaran gas dengan kriteria  :
a.    Pasien akan menunjukkan perbaikan ventilasi dengan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan.
b.    Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan atau situasi.
                  Intervensi :
a.    Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan, catat penggunaan otot aksesori, nafas bibir, ketidakmampuan bicara atau berbincang.
b.    Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien memilih posisi yang mudah untuk bernafas dan latihan nafas dalam.
c.    Kaji kulit dan warna membran mukosa.
d.    Dorong pengeluaran sputum.
e.    Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara dan bunyi tambahan.
f.     Awasi tingkat kesadaran atau status mental.
g.    Awasi tanda vital dan irama jantung.
h.   Berikan O2 tambahan sesuai indikasi hasil GDA dan intoleransi pasien.
3.  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dypsnea, kelemahan efek samping obat, produksi sputum, anoreksia, mual atau muntah.
                  Tujuan : meningkatkan masukan nutrisi dengan kriteria :
a.    Pasien akan menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat.
b.    Pasien akan menunjukkan perilaku atau perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat yang tepat.
                  Intervensi :
a.    Kaji kebiasaan diit, masukan makanan saat ini.
b.    Auskultasi bunyi usus.
c.    Berikan perawatan oral, buang sekret.
d.    Dorongan periode istirahat selama 1 jam, sebelum dan sesudah makan.
e.    Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
f.     Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin.
g.    Timbang berat badan sesuai indikasi.
h.   Kaji pemeriksaan laboratorium.
i.     Konsul dengan ahli gizi.
4.  Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama (penurunan kerja silia, menetapnya sekret)
                  Tujuan : tidak ada tanda dan gejala infeksi dengan kriteria :
a.    Menyatakan pemahaman penyebab atau faktor resiko individu.
b.    Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko individu.
c.    Menunjukkan teknik, perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.
                  Intervensi :
a.    Kaji suhu tubuh pasien
b.    Kaji pentingnya nafas dalam, batuk efektif, perubahan posisi sering, dan masukan cairan adekuat.
c.    Kaji warna, karakter, bau sputum.
d.    Ajarkan cuci tangan yang benar.
e.    Awasi pengunjung.
f.     Dorong keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
g.    Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.
5.  Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi atau tidak mengenal sumber informasi, salah mengerti tentang informasi, kurang mengingat atau keterbatasan kognitif.      
                  Tujuan : meningkatkan tingkat pengetahuan dengan kriteria :
a.    Menyatakan pemahaman kondisi atau proses penyakit dan tindakan.
b.    Mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubungkan dengan faktor penyebab.
c.    Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.
                  Intervensi :
a.    Jelaskan proses penyakit individu.
b.    Diskusikan obat pernafasan, efek samping, dan reaksi yang tak diinginkan.
c.    Anjurkan menghindari agen sedatif anti anestesi.
d.    Tekankan pentingnya perawatan oral atau kebersihan gigi.
e.    Diskusikan pentingnya menghindari orang yang sedang infeksi pernafasan akut.
f.     Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan menghentikan rokok pada pasien dan atau orang terdekat.
g.    Berikan reinforcement tentang pembatasan aktivitas.
                       
6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk, ketidakmampuan melakukan posisi terlentang, rangsangan lingkungan.       
                  Tujuan : kebutuhan istirahat terpenuhi dengan kriteria : waktu tidur rutin, kualitas dan kuantitas tidur baik.
                  Intervensi :
a.   Jelaskan siklus tidur dan signifikannya
1)  Tahap I    : tahap transisi antara bangun dan tidur
2)  Tahap II   : tidur tapi mudah terbangun.
3)  Tahap III  : tidur dalam lebih sulit terbangun.
4)  Tahap IV : tidur paling dalam
b.   Diskusikan perbedaan individu dalam kebutuhan tidur menurut usia, gaya hidup, aktivitas dan tingkat stres.
c.   Tingkatkan relaksasi, berikan lingkungan yang tenang, beri ventilasi ruangan yang baik, tutup pintu ruangan yang baik, tutup pintu ruangan pasien.
d.   Bila diinginkan tinggikan kepala tempat tidur setinggi 10 inci dan gunakan penopang bantal di bawah lengan.
e.   Hindari pemberian cairan panas atau dingin menjelang tidur.      




DAFTAR PUSTAKA


Asih, N.L.G.Y., Effendy, C., 2003, Keperawatan Medikal Bedah : Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan, Editor Monica Ester, EGC, Jakarta.
Carpenito, L.J., 1998, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik, (terjemahan), Alih Bahasa : PSIK, Universitas Padjajaran, EGC, Jakarta.
Carpenito, L.J., 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, Alih Bahasa : PSIK, Universitas Padjajaran, EGC, Jakarta.
Danusanto, H., 2000, Ilmu Penyakit Paru, Hipokrates, Jakarta.
Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, (terjemahan), Alih Bahasa : I Made Krisiana dan Ni Made Sumarwati, Ed. 3, EGC, Jakarta.
Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, (terjemahan), Alih Bahasa : I Made Krisna dan Ni Made Sumarwati, Ed. 3, EGC, Jakarta.
Smeltzer, S.C., Bare, B.G., 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth, (terjemahan), Alih Bahasa : Agung Waluyo, Editor Monica Ester, Ed. 8, Vol. 2, EGC, Jakarta.

Syaifuddin, 2006, Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan, Editor Monica Ester, Ed. 3, EGC, Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Back to TOP